Featured Post Today
print this page
Latest Post

Jual Tiga Anak a demi Game Online

Hati-hati jika bermain game online kerana boleh menyebabkan ketagihan yang sulit dikontrol. Biasanya orang yang sudah kecanduan akan melakukan apa pun agar tetap bermain game online. Seperti kes yang satu ini.

Sepasang suami isteri (pasutri) di Cina, Li Lin and Li Juan, tergamak menjual tiga anaknya hanya untuk boleh membayar permainan online yang mereka sukai. Demikian yang dikutip dari Asia One, baru-baru ini.

Pasangan ini mengaku bertemu pertama kali di sebuah warung internet (warnet) pada 2007 silam. Kerana mempunyai kesamaan, yakni sama-sama menyukai permainan online, akhirnya mereka memutuskan untuk menikah di tahun yang sama.

Setahun kemudian, pasutri tersebut dikurniai seorang anak laki-laki. Namun, mereka tidak mengurus anak tersebut. Mereka lebih memilih pergi ke warnet yang berjarak 30 km dari rumahnya, ketimbang merawat sang bayi.

Pada 2009, pasangan ini memiliki anak kedua, namun tidak lama kemudian mereka menjualnya seharga 3,000 Yuan  untuk membayar biaya sewa warnet. Lalu, merekerlukan wang, selepas memiliki anak ketiga, mereka juga menjual anak tersebut seharga 30,000 Yuan.

Ketika ditanya kenapa tergamak menjual anaknya, suami isteri itu menjawab "Kami tidak bermaksud untuk membesarkan anak kami. Kami hanya memerrlukan wang dari keberadaan mereka".

Ibu dari Li Lin merasa tidak terima dengan apa yang dilakukan anak dan menantunya itu, sehingga dia melaporkan kes ini ke polis .
Sumber : http://www.exelroze.info
0 komentar

FOTO Anak Anak Pendulang Emas Di Philipina

VIVAnews

Berburu emas banyak dilakukan oleh warga masyarakat di dunia termasuk di Indonesia. Di Philipina perburuan emas ini bahkan melibatkan anak-anak dengan tingkat keselamatan pekerjaan yang rendah. Mereka masuk kedalam lubang galian yang tentunya akan membahayakin jiwa mereka. Sebuah pemandangan yang umum terjadi di Asia, dimana mestinya anak-anak menikmati dunianya dengan bermain dan menuntut ilmu justru berjibaku dengan maut untuk mencari wang.



























0 komentar

Cara Kerja Printer Dot Matrix

Ditulisan sebelumnya kita telah membahas Pengertian printer Dot Matrix dan kali ini saya akan membahas tentang cara kerja dari printer dot matrix, printer laser dan inject. Jenis printer dotmatrix adalah sebuah printer yang metode pencetakannya menggunakan pita. Hasil cetaknya terlihat seperti titik2 yang saling menghubungkan satu titik ke titik yang lainnya.

Harga Printer Epson Dot Matrix Terbaru

Jenis printer dot matrik ini sering kita temui di kasir penjualan, printer jenis dot metrix yang sering dipakai kebanyakan orang adalah printer dot matrix dari Epson. Salah satunya adalah printer Epson Dot matrix LX 300 dan LX 800 dan lain-lain. Untuk info daftar harga printer dot matrix silahkan menuju page berikut Harga printer Epson Dot Matrix terbaru


Cara kerja printer Dot Matrix ini cetakkannya dihasilkan dari beberapa jarum atau pin kecil, yang dibariskan dalam suatu kolom, membentur suatu pita tinta dan memposisikan antara pin dan kertas, menciptakan titik pada kertas tersebut. Karakter disusun atas pola titik-titik dengan menggerakkan printhead secara menyamping ke seberang halaman dalam kenaikan yang sangat kecil.

Cara Kerja Printer Dot Matrix
Cara Kerja Printer Dot Matrix
 
Pin atau jarum, terdapat di printhead tersebut, dengan panjang kira2 sekitar satu inci dan dikemudikan oleh beberapa pendorong memaksa masing2 jarum menitik/menjepit pita tinta dan menutupi kertas pada suatu waktu tertentu. Kekuatan pada pendorong ini datang dari tarikan yang magnetis dari gelang kawat kecil (solenoid) yang diberi tenaga pada situasi tertentu, tergantung pada karakter yang akan dicetak dan pemilihan waktu isyarat mengirim kepada solenoid diprogramkan ke dalam printer tersebut untuk masing2 karakter, dan menterjemahkan dari informasi yang dikirim oleh komputer karakter yang mana yang akan dicetak. Oke semoga info cara kerja printer dot matrix ini bermanfaat buat teman2 semua.

Tulisan yang lainnya:
Printer HP laserjet untuk usaha percetakan
Printer yang bagus untuk cetak foto
Harga Canon IP 2770
Memilih printer yang bagus
0 komentar

7 Desain mesin Kopi Yang Unik

Selama ratusan tahun, membuat secangkir kopi proses tampak sederhana. Selama periode tersebut, sedangkan rasa dasar dari brewage masih tetap hampir sama, tapi cara yang dapat dipersiapkan telah pergi dari mudah mudah. Memeriksa beberapa pembuat kopi paling menakjubkan yang yakin untuk meningkatkan pengalaman menyeduh Anda.

Mypressi Twist


Mypressi telah memperkenalkan mesin espresso pertama di dunia yang penuh portabel. Disebut "Twist," adalah mesin kopi bergaya portabel, ringan dan mudah untuk digunakan, sedangkan menjanjikan sebuah pengalaman kopi yang luar biasa di perjalanan.


Espresso waker


Lee Espresso waker dirancang untuk membantu Anda membuka mata Anda dengan bau dari espresso secangkir teh. Yang membutuhkan pelayan untuk berjalan di kamar Anda dengan secangkir kopi panas untuk mengucapkan selamat pagi?

Coffee Mixer


Gambar ilham dari struktur kerang, Iran desainer Behzad Hormoz telah dibuat mixer kopi unik namun canggih yang tampaknya untuk memperkaya pengalaman Anda menyeduh. Membungkus sebuah ketel terbuat dari Pyrex, segelas borosilikat dengan koefisien ekspansi rendah digunakan untuk gelas tahan panas dalam memasak dan kimia, dalam struktur bola selesai dalam plastik, perusahaan bir kopi mengintegrasikan baterai isi ulang, sehingga dapat digunakan selama perjalanan dengan keluarga atau teman-teman

IMO Coffee maker


Mendapatkan secangkir kopi diseduh baik sendiri bukan masalah besar dengan IMO canggih pembuat kopi. Ini telah dirancang untuk memperkaya pengguna dengan pengalaman membuat kopi yang unik.

Presovar oleh Necas Martin


Dibuat oleh desainer Ceko Martin Necas, Presovar merupakan generasi berikutnya dari pembuat kopi desainer yang tidak hanya dilakukan untuk tee tetapi juga menambah petunjuk untuk glamor dengan ruang dapur. Desain grafis fitur siluet tak beraturan yang langsung meminjamkan itu identitas sebagai sebuah karya seni.

Coffee Machine


Dirancang oleh Kamil Kurka, lulusan dari University of West Bohemia, Institut Seni dan Desain, sebagai salah satu proyek semester selama kursus tentang Desain Industri, yang "Mesin Kopi" adalah pembuat kopi futuristik yang lain dari pembuatan bir sebuah cupp sempurna kopi o membantu dalam meningkatkan dekorasi dapur Anda.

Podi coffee maker


Dirancang oleh Vinod Gangotra untuk Selec Line (Asia), yang "podi" adalah pembuat kopi melayani tunggal untuk digunakan dengan kaku kapsul dibuat Italia tersedia di enam aroma yang berbeda, memungkinkan berbagai besar bagi pengguna. Set yang akan diluncurkan bulan depan di Eropa, melayani satu mesin kopi juga termasuk tangki 1,0 liter air, tekanan 17 bar dan kapsul otomatis mendepak sistem.


sumber
0 komentar

7Wonders Sisi Lain Keindahan Di Gunung Bromo

Pesona keindahan tidak selalu identik dengan kemegahan dan kemewahan. Tak jarang, dari hal-hal yang tampak sederhana dan biasa saja, terkandung banyak pesona keindahan. Begitulah yang saya jumpai dan rasakan ketika berkunjung ke kawasan wisata Gunung Bromo pada hari Rabu, tgl 28 Agustus 2013.


Saya sengaja berangkat dari Tuban - Surabaya pada malam hari dan kemudian berlanjut ke Probolinggo. Untuk ongkos tiket bis dari Surabaya - Probolinggo yaitu  Rp 16.000. Perjalanan saya sampai di terminal Bayu Angga - Probolinggo  pada pagi hari pukul  04.00 WIB.

Memang mungkin terlalu pagi. Tetapi tak apa karena bisa sambil istirahat, membersihkan diri dan sarapan  untuk menunggu berangkatnya angkutan umum itu pada pukul 06.30 WIB.
Kesengajaan untuk datang pada pagi hari  ini karena belajar dari pengalaman kunjungan saya ke Gunung Bromo pada beberapa bulan sebelumnya.Kala itu , saya merasakan cukup susah dan jarangnya angkutan umum yang menuju ke Gunung Bromo dari terminal Bayu Angga ini.
 
Dalam sehari , hanya ada 2 atau 3 angkutan umum berupa mobil jenis ELF yang membawa penumpang yang menuju ke Bromo.Tarifnya Rp 30.000 per orang dengan lama perjalanan sekitar 1,5 jam.

Cukup lamanya perjalanan itu karena angkutan umum jenis ini harus sering berhenti pada tempat-tempat tertentu untuk mencari penumpang atau menurunkan penumpang dengan berbagai barang bawaannya.

Selama perjalanan itu , panorama yang asri,  indah dan menyejukkan ala daerah pegunungan terasa memanjakan mata. Akhirnya, perjalanan pun sampai di daerah Cemoro Lawang sebagai tempat terakhir untuk menurunkan penumpang dan wisatawan . 

Dari Cemoro Lawang ini ada banyak pilihan untuk menuju keTaman Nasional Gunung Bromo. Bisa dengan menggunakan angkutan umum berupa kendaraan Jeep dan Hardtop, kuda, ojek, atau bisa pula dengan berjalan kaki. Untuk setiap orangnya jika naik Jeep atau Hardtop ongkosnya  mulai  Rp 125.000, Ojek mulai Rp 50.000, dan  kuda mulai Rp 50.000. 

Kesemuanya bergantung dari nego dan kesepakatan.Bagi Anda yang datang secara rombongan, bisa menyewa Jeep atau Hardtop itu dengan harga lebih hemat dan  murah yaitu Rp 450.000 - Rp 500.000.

Saya sendiri memilih untuk berjalan kaki saja. Selain karena saya merasa fisik dan stamina saya masih sanggup untuk menempuh jalan menuju ke Gunung Bromo, juga karena bisa untuk berhemat dan mengambil banyak gambar-gambar yang indah selama perjalanan itu. Dengan kawasannya yang sangat luas, tentu banyak panorama dan aktifitas warga atau wisatawan yang menawan untuk diabadikan dengan kamera.

Dan benar saja, ketika melangkahkan kaki mengawali perjalanan saya di kawasan Gunung Bromo, sosok beberapa  warga yang tinggal di sekitar kawasan Gunung Bromo segera menjadi incaran bidikan kamera saya.

Ada yang unik dan khas dari penampilan mereka yang senantiasa mengenakan sarung dan penutup kepala. Perlengkapan itu mereka gunakan untuk melindungi tubuh dan kepala dari terpaan dinginnya hawa pegunungan disana.

Keindahan berikutnya adalah tentu saja panorama gunung Bromo dan Gunung Batok dari kejauhan. Dengan perpaduan aneka tanaman dan pepohonan di sekitar lokasi saya berdiri seolah menjadi bingkai alami setiap foto saya.

Para penunggang kuda yang hilir mudik tak hentinya menghamipiri saya dan menawarkan jasanya untuk mengantarkan menuju ke Gunung Bromo. Tawaran itu saya tolak dengan halus dengan mengarahkan bidikan kamera saya pada mereka.

Yang menarik, diantara mereka ternyata ada beberapa joki yang usianya masih anak-anak. Salah satunya adalah bocah laki-laki yang bernama Febri ( 11 th ).Bocah yang masih duduk di kelas 4 Sekolah Dasar ini bekerja menjadi joki kuda sejak lima bulan yang lalu.

Aktifitas itu dilakukannya seusai pulang sekolah hingga sore hari. Menurut pengakuannya, dari kerjanya itu rata-rata per hari dia bisa memperoleh uang Rp 100.000 - Rp 150.000 yang dia serahkan pada orang tuanya untuk membantu keluarga dan biaya sekolahnya.

Suasana di kawasan wisata Gunung Bromo pada hari itu cukup lengang karena tak banyak wisatawan yang berkunjung kesana. Keberadaan sosok-sosok manusia itu  seolah tampak mungil karena  tenggelam oleh luasnya lautan pasir.

Menyusuri lautan pasir itu saya menjumpai banyak keindahan. Diantaranya adalah hamparan pasir yang membentuk pola-pola tertentu dan senantiasa berubah karena hembusan dan tiupan angin.

Begitu pula dengan formasi bebatuan dan pasir yang dengan bentuk dan pola tertentu karena proses alam.

Di tengah lautan pasir itulah terdapat bangunan Pura Luhur Poten. Bangunan itu digunakan sebagai tempat beribadah masyarakat Tengger di sekitar Gunung Bromo  yang pada  umumnya beragama Hindu. Pura Luhur Poten ini dibangun pada  tahun 2000. Pura ini menjadi tempat pemujaan Dewa Brohmo (Dewa Brahma), yang merupakan  manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Sang Pencipta.

Di pura yang pada bagian depannya terdapat ornamen penjaga berupa dua patung Dwarapala  inilah yang menjadi pusat dalam berbagai kegiatan tradisi dan keagamaan di kawasan Tengger ini seperti upacara Nyadnya Kasado. Upacara sebagai bentuk pengorbanan ini dilakukan umat Hindu Tengger pada malam ke-14 Bulan Kasada ( Bulan kesepuluh dalam penanggalan jawa ).

Pada upacara itu mereka datang dengan membawa beraneka ragam sesajian dan sesembahan dari hasil pertanian, perkebunan dan perternakan  yang akan  mereka lemparkan ke kawah Gunung Bromo sebagai sesaji kepada Dewa Brohmo yang diyakini  bersemayam di Gunung Bromo. Sayang, saat saya berada disana, pura itu dalam keadaan tertutup sehingga saya hanya bisa melihat keadaan di dalamnya dari kejauhan saja.

Tak hanya itu  saja. Di sekitar pura Luhur  Poten yang memiliki gerbang masuk berbentuk Gapura Bentar  ini juga terdapat tiga  ornamen yang berukuran kecil yang juga menjadi sarana dan lokasi beribadah umat Hindu. Saat saya mendekatinya, disana masih terdapat bekas-bekas sesajian, arang dan kemenyan.

Yang menarik, pada ketiga ornamen itu terdapat bongkahan batu gunung  yang berukuran cukup besar. Ada juga bongkahan batu dengan bentuk seperti gunung kecil yang tersusun dari bebatuan kecil.

Saat saya berada disana, ternyata ada dua turis suami istri yaitu Steve dan Catherine yang datang mendekati saya. Mereka yang berasal dari Jerman itu rupanya merasa tertarik dan penasaran ketika dari kejauhan  melihat aktifitas saya seorang diri sedang asyik memotret ornamen dan bebatuan itu .

Steve juga mengatakan sangat terkesan dengan keindahan Gunung Bromo ini. Mereka akan memberitahu keindahan gunung ini pada keluarga dan rekannya sekembalinya ke Jerman.

Saya kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke Gunung Bromo. Badai pasir yang tak terlalu besar dan kencang seolah menemani perjalanan saya.


Hembusan dan terpaan angin yang bercampur butiran pasir itulah salah satu bagian dari sensasi dan keindahan yang mengesankan di Gunung Bromo ini .  

Di sekitar lautan pasir menuju ke Gunung Bromo itu terdapat beberapa warga yang menjual dagangan berupa makanan dan minuman. Tampak beberapa  penunggang kuda sedang asyik bercengkerama dan menikmati kudapan di sana. Sementara kuda-kuda  mereka setia menunggu di dekatnya.

Berada tak jauh dari bagian bawah tangga menuju ke Puncak Gunung Bromo, saya menjumpai beberapa remaja yang sedang membeli souvenir berupa rangkaian bunga kering. Yang menarik dan menjadi daya tarik mereka untuk membeli souvenir itu adalah karena di dalam rangkaian itu terdapat bunga Edelweis ( Anaphalis javanica ) .

 
Beragam istilah diberikan pada  tanaman eksotis ini. Ada yang menyebutnya  sebagai bunga keabadian, Bunga Ketulusan dan Bunga Perjuangan dan sebagainya. Disebut bungan keabadian, karena bunganya yang terus awet , terus berkembang.dan berada dipuncak gunung sebagai simbol keabadian.

Sedangkan disebut Bunga sebagai lambang ketulusan, karena Edelweis tumbuh di daerah yang khusus dan ekstrem, sehingga seolah menerima keadaan dis ekitarnya  apa adanya . Bunga ini juga mengandung arti sebagai lambang perjuangan, karena bunga ini tumbuh ditempat yang tandus, dingin, miskin unsur hara dan untuk mendapatkannya harus bersusah payah dengan  mendaki gunung.

Padahal, bunga Edlwis itu sebenarnya biasa dan sederhana saja. Bentuk dan ukuran bunganya cukup kecil, warna bunga putih kusam dan bau bunganya tidak harum. Hanya kisah dan istilah-istilah yang menyertainya itulah yang membuat bunga ini tampak istimewa.

Ragam kisah dan istilah itu justru menjadi bumerang bagi keberadaan bunga Edelweis itu sendiri. Keeksotisannya dengan berbagai kisahnya itu menarik perhatian para pemburu bunga Edelweis untuk mencari dan mengambil bunga itu dari habitatnya dan kemudian menjualnya di wisata Gunung Bromo ini.

Parahnya, ternyata ada saja wisatawan yang tertarik dan membeli bunga Edelweis yang dijajakan seharga mulai dari Rp 20.000 - Rp 50.000  itu. Ini artinya, tindakan mereka sama dengan melegalkan aksi pembabatan secara liar tanaman yang termasuk dalam kategori langka dan dilindungi itu.

Diantara pembeli bunga Edelweis itu adalah Catherine dan Fauzi, wisatawan dari Probolinggo. Catherine beralasan membeli bunga itu sebagai hiasan yang akan dipajang dalam kamarnya. Sedangkan untuk mitos-mitos yang berkembang tentang Bunga Edelweis itu, dia tak mempercayainya karena menurutnya mitos itu adalah anggapan orang-orang saja dan bisa dipatahkan pada realitanya.

Sedangkan  dua orang penjual Bunga Edelweis itu adalah Pak Sugeng ( 32 ) dan Pak Subur ( 56 ) yang berasal dari Desa Gedog di Lumajang, daerah yang lokasinya cukup jauh dan berbatasan dengan Probolinggo.Rangkaian bunga Edelweis itu ada yang dijual khusus berupa rangkaian bunga Edelweis saja dan ada juga yang merupakan rangkaian dengan bunga dan tanaman jenis lainnya yang diberi aneka warna.

Menurut penjelasan dari Pak Sugeng, pada hari libur di wisata Gunung Bromo itu ada sekitar 15 orang yang berjualan souvenir bunga Edelweis itu. Sedangkan pada hari biasa hanya ada 3-5 orang saja yang berjualan.Mereka umumnya berasal dari daerah yang sama dengannya dan hanya satu orang saja yang merupakan warga yang tinggal di kawasan Tengger ini.

Bunga Edelweis itu sendiri tidak mereka dapatkan dari Gunung Bromo ini karena bunga itu pada saat ini sudah tidak bisa dijumpai keberadaannya akibat pembabatan secara liar dan akibat dari letusan kecil Gunung Bromo ini pada beberapa waktu yang lalu. 

Tetapi bunga itu mereka dapatkan dari kawasan pegunungan Semeru yang disana memang masih banyak terdapat tanaman Edelweis ini seperti di kawasan Ranu Kumbolo, Ranu Pane, Bajul Mati dan sebagainya.

Proses pencarian bunga edelweis itu juga cukup lama dan tak mudah karena membutuhkan waktu 2 hari dan harus dengan bermalam di hutan dan pegunungan. Dalam seminggu mereka yang berjumlah 15 orang itu melakukan pengambilan bunga Edelweis  sebanyak 2 kali dengan setiap pengambilan untuk setiap orangnya  antara 5-10 ikat bunga Edelweis.

Dari aktifitas mereka itu tentu bisa dibayangkan apa akibatnya jika banyak wisatawan yang tertarik dan membeli dagangan mereka yang berupa  bunga Edelweis itu. Logikanya, dengan semakin larisnya dagangan Edelweis itu tentu akan membuat mereka semakin aktif dan sering untuk mencari dan membabat tanaman Edelweis. Akibatnya,  tentu semakin mengancam keberadaan populasi tanaman ini.

Alasan mereka untuk tetap bertahan berjualan bunga Edelweis karena faktor ekonomi tentu bisa dipatahkan karena mereka bisa berjualan tanpa harus menyertakan bunga Edelweis ini. Toh dalam rangkaian bunga kering yang mereka jajakan itu juga ada bunga dan tanaman jenis lainnya yang mereka beri warna. Tanpa bunga Edelweis, rangkaian bunga itu  juga tetap tampil menarik.

Dalam hal ini butuh kesadaran dari wisatawan untuk Menolak, Berkata Tidak dan  Tidak Membeli  rangkaian bunga Edelweis bila ada pedagang yang menawarkan bunga itu ketika berkunjung ke wisata Gunung Bromo.

Biarkanlah  keindahan bunga Edelweis ini mewarnai ekosistem asalnya. Tak perlu kita sampai harus dengan merusak keberadaan tanaman Edelweis ini karena ungkapan perasaan cinta dan kasih sayang  pada kekasih atau pasangan bisa disampaikan  melalui rangkaian bunga dari jenis lainnya, boneka, bingkisan, souvenirdan sebagainya.

Ketika saya berbincang-bincang  dengan penjual bunga Edelweis itu, saya juga menjumpai beberapa biker yang melintasi kawasan ini dengan sepeda mereka. Momen yang indah itu tentu juga tak lepas dari bidikan lensa kamera. 

Usai mendapatkan informasi yang cukup tentang Bunga Edelweis itu, saya kemudian melanjutkan perjalanan dengan menaiki tangga menuju ke puncak Gunung Bromo.
 
Syukurlah, kondisi tangga itu saat ini sudah dibenahi karena sebelumnya rusak parah akibat letusan Gunung Bromo dan sangat membahayakan bagi keselamatan pengunjung.

Untuk menaiki tangga sebanyak 250 anak tangga dengan sudut kemiringan yang cukup ekstrem itu tentu membutuhkan stamina tubuh yang fit dan prima. Jangan memaksakan diri untuk tetap meniti tangga itu jika tubuh terasa lelah dan nafas yang terengah-engah.

Beristirahat sejenak dengan mengatur nafas sangat disarankan sebelum Anda melanjutkan perjalanan. Begitu pula dengan tetap berjalan melangkahkan kaki sambil berpegangan pada pagar pembatas mengingat tangga yang cukup licin karena banyak terdapat pasir halus pada anak tangganya.

Ada beberapa  pengunjung yang terjatuh dan terpeleset karena tak hati-hati dan berpegangan pada pagar pembatas ketika meniti tangga itu.

Setelah meniti tangga yang cukup berat itu, akhirnya saya sampai juga di puncak Gunung Bromo. Saat itu saya hanya menjumpai tak lebih dari 10 wisatawan yang ada di sana. Para penjual bunga Edelweis yang biasanya ada dan berjualan disana juga tak saya jumpai.

Syukurlah cuaca saat itu cukup cerah dan bersahabat. Kepulan asap yang keluar dari kawah Gunung Bromo juga tak banyak dan menyebar ke segala arah yang bisa terasa cukup mengganggu karena unsur belerangnya terasa  cukup mengganggu pernafasan.

Dengan keadaan yang seperti itu wisatawan bisa leluasa dan nyaman menikmati indahnya panorama kawah gunung Bromo itu. Kawah itu juga bisa terlihat cukup jelas. Apalagi pagar  pembatas yang rusak parah juga sudah diperbaiki.

Dari puncak gunung ini dengan menebarkan pandangan terlihat sosok Gunung Batok yang berada di dekatnya menjulang dengan kokohnya. Begitu pula dengan pegunungan dan perbukitan yang berada disekitarnya.


Ada pemandangan yang cukup menarik karena juga terdapat  beberapa warga yang menyewakan kudanya tampak beristirahat di lereng gunung ini. Begitu pula dengan kudanya. Di bawah teriknya Sang Surya, mereka tidur-tiduran dengan beralaskan pasir dan  menutupi tubuhnya dengan menggunakan sarungnya. Dari kejauhan tampak bangunan Pura Luhur Poten yang seolah senantiasa setia bermain dengan  lautan pasir dan badai pasirnya.

Usai menikmati panorama di puncak Gunung Bromo dengan keindahan kawahnya itu, saya kemudian menuruni tangga. Di tangga itu saya menjumpai beberapa pasangan yang tampak mesra mengabadikan momen dan kenangan mereka.

Berbeda dengan saat menuju ke Gunung Bromo yang terasa cukup lama, berat dan melelahkan, ketika kembali dari Gunung Bromo dan menuruni medannya terasa cukup cepat dan ringan. Walau tetap terasa melelahkan karena tak ada tempat untuk berteduh dari teriknya sinar matahari.

Dalam perjalanan kembali itu saya menyempatkan diri untuk memotret rekahan di lautan pasir itu.Rekahan yang bentuknya seperti sungai kering itu mungkin terjadi akibat letusan dan aktifitas vulkanik gunung ini.

Di tengah hamparan lautan pasir pada teriknya matahari itu, saya juga menjumpai seorang pria tampak  sedang membawa kantung plastik besar sedang memunguti sampah. Semula saya mengira dia adalah pemulung. Tetapi setelah saya mendekat dan berkenalan diri, ternyata pria yang bernama Pak Timbul itu adalah petugas kebersihan kawasan ini.

Petugas kebersihan itu sendiri ada 12 orang yang bertugas secara bergantian dalam dua bagian dan shif.Keberadaan Pak Timbul itu tentu termasuk dalam sisi lain keindahan di Gunung bromo ini dalam versi saya. Karena dengan tugasnya itu, dia berusaha untuk menjaga kawasan ini agar tetap indah dan menarik tanpa adanya sampah yang berserakan.

Sesampai kembali di Cemoro Lawang, saya beristirahat sejenak. Sedapnya bau kuliner bakso dari pejual yang mangkal disana menggoda selera saya. Saya kemudian memesan satu porsi bakso yang dihargai Rp 8000 per porsinya. Bakso itu sendiri tak berbeda dengan bakso pada umumnya.

Tetapi, menikmati bakso dengan suasana dan nuansa yang menyejukkan di dataran tinggi ini  menjadi bagian rangkaian dari  keindahan yang saya jumpai di wisata Gunung Bromo. 

Di sekitar kawasan wisata ini juga terdapat banyak warung, restoran dan kafe yang menjual beraneka jenis makanan dan minuman. Ada juga banyak penginapan, hotel dan villa   dengan tarif mulai dari Rp100.00 per malam. 







====================

Baca juga dan Klik artikel menarik berikut ini  :

Main Game = Dapat Dollars  
 

Instant Access To Get Freelancer Jobs 

Menambang Uang Melalui Facebook dan Twitter

Peluang Mendapatkan Dollar Via Internet 

Museum Santet Di Surabaya

Tips Memasang Iklan Di Blog 

Share Status di Fb/Twitter Dapat Komisi 

Jenazah Utuh Dimakamkan 35 Tahun Di Tuban


Click Nikmatnya Oleh-oleh Khas Tuban


Artikel-artikel Menarik lainnya bisa Anda baca 

di Link berikut ini :

www.blogger.comblogspot.com



























0 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. global posting - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger