Pesona keindahan tidak selalu identik dengan kemegahan dan kemewahan. Tak jarang, dari hal-hal yang tampak sederhana dan biasa saja, terkandung banyak pesona keindahan. Begitulah yang saya jumpai dan rasakan ketika berkunjung ke kawasan wisata Gunung Bromo pada hari Rabu, tgl 28 Agustus 2013.

Saya sengaja berangkat dari Tuban - Surabaya pada malam hari dan kemudian berlanjut ke Probolinggo. Untuk ongkos tiket bis dari Surabaya - Probolinggo yaitu Rp 16.000. Perjalanan saya sampai di terminal Bayu Angga - Probolinggo pada pagi hari pukul 04.00 WIB.
Memang mungkin terlalu pagi. Tetapi tak apa karena bisa sambil istirahat, membersihkan diri dan sarapan untuk menunggu berangkatnya angkutan umum itu pada pukul 06.30 WIB.
Kesengajaan untuk datang pada pagi hari ini karena belajar dari pengalaman kunjungan saya ke Gunung Bromo pada beberapa bulan sebelumnya.Kala itu , saya merasakan cukup susah dan jarangnya angkutan umum yang menuju ke Gunung Bromo dari terminal Bayu Angga ini.

Selama perjalanan itu , panorama yang asri, indah dan menyejukkan ala daerah pegunungan terasa memanjakan mata. Akhirnya, perjalanan pun sampai di daerah Cemoro Lawang sebagai tempat terakhir untuk menurunkan penumpang dan wisatawan .
Dari Cemoro Lawang ini ada banyak pilihan untuk menuju keTaman Nasional Gunung Bromo. Bisa dengan menggunakan angkutan umum berupa kendaraan Jeep dan Hardtop, kuda, ojek, atau bisa pula dengan berjalan kaki. Untuk setiap orangnya jika naik Jeep atau Hardtop ongkosnya mulai Rp 125.000, Ojek mulai Rp 50.000, dan kuda mulai Rp 50.000.
Kesemuanya bergantung dari nego dan kesepakatan.Bagi Anda yang datang secara rombongan, bisa menyewa Jeep atau Hardtop itu dengan harga lebih hemat dan murah yaitu Rp 450.000 - Rp 500.000.
Saya sendiri memilih untuk berjalan kaki saja. Selain karena saya merasa fisik dan stamina saya masih sanggup untuk menempuh jalan menuju ke Gunung Bromo, juga karena bisa untuk berhemat dan mengambil banyak gambar-gambar yang indah selama perjalanan itu. Dengan kawasannya yang sangat luas, tentu banyak panorama dan aktifitas warga atau wisatawan yang menawan untuk diabadikan dengan kamera.
Dan benar saja, ketika melangkahkan kaki mengawali perjalanan saya di kawasan Gunung Bromo, sosok beberapa warga yang tinggal di sekitar kawasan Gunung Bromo segera menjadi incaran bidikan kamera saya.
Keindahan berikutnya adalah tentu saja panorama gunung Bromo dan Gunung Batok dari kejauhan. Dengan perpaduan aneka tanaman dan pepohonan di sekitar lokasi saya berdiri seolah menjadi bingkai alami setiap foto saya.
Yang menarik, diantara mereka ternyata ada beberapa joki yang usianya masih anak-anak. Salah satunya adalah bocah laki-laki yang bernama Febri ( 11 th ).Bocah yang masih duduk di kelas 4 Sekolah Dasar ini bekerja menjadi joki kuda sejak lima bulan yang lalu.
Aktifitas itu dilakukannya seusai pulang sekolah hingga sore hari. Menurut pengakuannya, dari kerjanya itu rata-rata per hari dia bisa memperoleh uang Rp 100.000 - Rp 150.000 yang dia serahkan pada orang tuanya untuk membantu keluarga dan biaya sekolahnya.
Suasana di kawasan wisata Gunung Bromo pada hari itu cukup lengang karena tak banyak wisatawan yang berkunjung kesana. Keberadaan sosok-sosok manusia itu seolah tampak mungil karena tenggelam oleh luasnya lautan pasir.


Menyusuri lautan pasir itu saya menjumpai banyak keindahan. Diantaranya adalah hamparan pasir yang membentuk pola-pola tertentu dan senantiasa berubah karena hembusan dan tiupan angin.
Begitu pula dengan formasi bebatuan dan pasir yang dengan bentuk dan pola tertentu karena proses alam.
Di tengah lautan pasir itulah terdapat bangunan Pura Luhur Poten. Bangunan itu digunakan sebagai tempat beribadah masyarakat Tengger di sekitar Gunung Bromo yang pada umumnya beragama Hindu. Pura Luhur Poten ini dibangun pada tahun 2000. Pura ini menjadi tempat pemujaan Dewa Brohmo (Dewa Brahma), yang merupakan manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Sang Pencipta.
Di pura yang pada bagian depannya terdapat ornamen penjaga berupa dua patung Dwarapala inilah yang menjadi pusat dalam berbagai kegiatan tradisi dan keagamaan di kawasan Tengger ini seperti upacara Nyadnya Kasado. Upacara sebagai bentuk pengorbanan ini dilakukan umat Hindu Tengger pada malam ke-14 Bulan Kasada ( Bulan kesepuluh dalam penanggalan jawa ).
Pada upacara itu mereka datang dengan membawa beraneka ragam sesajian dan sesembahan dari hasil pertanian, perkebunan dan perternakan yang akan mereka lemparkan ke kawah Gunung Bromo sebagai sesaji kepada Dewa Brohmo yang diyakini bersemayam di Gunung Bromo. Sayang, saat saya berada disana, pura itu dalam keadaan tertutup sehingga saya hanya bisa melihat keadaan di dalamnya dari kejauhan saja.
Tak hanya itu saja. Di sekitar pura Luhur Poten yang memiliki gerbang masuk berbentuk Gapura Bentar ini juga terdapat tiga ornamen yang berukuran kecil yang juga menjadi sarana dan lokasi beribadah umat Hindu. Saat saya mendekatinya, disana masih terdapat bekas-bekas sesajian, arang dan kemenyan.
Yang menarik, pada ketiga ornamen itu terdapat bongkahan batu gunung yang berukuran cukup besar. Ada juga bongkahan batu dengan bentuk seperti gunung kecil yang tersusun dari bebatuan kecil.
Saat saya berada disana, ternyata ada dua turis suami istri yaitu Steve dan Catherine yang datang mendekati saya. Mereka yang berasal dari Jerman itu rupanya merasa tertarik dan penasaran ketika dari kejauhan melihat aktifitas saya seorang diri sedang asyik memotret ornamen dan bebatuan itu .

Steve juga mengatakan sangat terkesan dengan keindahan Gunung Bromo ini. Mereka akan memberitahu keindahan gunung ini pada keluarga dan rekannya sekembalinya ke Jerman.

Saya kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke Gunung Bromo. Badai pasir yang tak terlalu besar dan kencang seolah menemani perjalanan saya.

Hembusan dan terpaan angin yang bercampur butiran pasir itulah salah satu bagian dari sensasi dan keindahan yang mengesankan di Gunung Bromo ini .
Hembusan dan terpaan angin yang bercampur butiran pasir itulah salah satu bagian dari sensasi dan keindahan yang mengesankan di Gunung Bromo ini .
Di sekitar lautan pasir menuju ke Gunung Bromo itu terdapat beberapa warga yang menjual dagangan berupa makanan dan minuman. Tampak beberapa penunggang kuda sedang asyik bercengkerama dan menikmati kudapan di sana. Sementara kuda-kuda mereka setia menunggu di dekatnya.
Beragam istilah diberikan pada tanaman eksotis ini. Ada yang menyebutnya sebagai bunga keabadian, Bunga Ketulusan dan Bunga Perjuangan dan sebagainya. Disebut bungan keabadian, karena bunganya yang terus awet , terus berkembang.dan berada dipuncak gunung sebagai simbol keabadian.
Padahal, bunga Edlwis itu sebenarnya biasa dan sederhana saja. Bentuk dan ukuran bunganya cukup kecil, warna bunga putih kusam dan bau bunganya tidak harum. Hanya kisah dan istilah-istilah yang menyertainya itulah yang membuat bunga ini tampak istimewa.
Ragam kisah dan istilah itu justru menjadi bumerang bagi keberadaan bunga Edelweis itu sendiri. Keeksotisannya dengan berbagai kisahnya itu menarik perhatian para pemburu bunga Edelweis untuk mencari dan mengambil bunga itu dari habitatnya dan kemudian menjualnya di wisata Gunung Bromo ini.
Diantara pembeli bunga Edelweis itu adalah Catherine dan Fauzi, wisatawan dari Probolinggo. Catherine beralasan membeli bunga itu sebagai hiasan yang akan dipajang dalam kamarnya. Sedangkan untuk mitos-mitos yang berkembang tentang Bunga Edelweis itu, dia tak mempercayainya karena menurutnya mitos itu adalah anggapan orang-orang saja dan bisa dipatahkan pada realitanya.
Bunga Edelweis itu sendiri tidak mereka dapatkan dari Gunung Bromo ini karena bunga itu pada saat ini sudah tidak bisa dijumpai keberadaannya akibat pembabatan secara liar dan akibat dari letusan kecil Gunung Bromo ini pada beberapa waktu yang lalu.
Tetapi bunga itu mereka dapatkan dari kawasan pegunungan Semeru yang disana memang masih banyak terdapat tanaman Edelweis ini seperti di kawasan Ranu Kumbolo, Ranu Pane, Bajul Mati dan sebagainya.
Proses pencarian bunga edelweis itu juga cukup lama dan tak mudah karena membutuhkan waktu 2 hari dan harus dengan bermalam di hutan dan pegunungan. Dalam seminggu mereka yang berjumlah 15 orang itu melakukan pengambilan bunga Edelweis sebanyak 2 kali dengan setiap pengambilan untuk setiap orangnya antara 5-10 ikat bunga Edelweis.
Dari aktifitas mereka itu tentu bisa dibayangkan apa akibatnya jika banyak wisatawan yang tertarik dan membeli dagangan mereka yang berupa bunga Edelweis itu. Logikanya, dengan semakin larisnya dagangan Edelweis itu tentu akan membuat mereka semakin aktif dan sering untuk mencari dan membabat tanaman Edelweis. Akibatnya, tentu semakin mengancam keberadaan populasi tanaman ini.
Alasan mereka untuk tetap bertahan berjualan bunga Edelweis karena faktor ekonomi tentu bisa dipatahkan karena mereka bisa berjualan tanpa harus menyertakan bunga Edelweis ini. Toh dalam rangkaian bunga kering yang mereka jajakan itu juga ada bunga dan tanaman jenis lainnya yang mereka beri warna. Tanpa bunga Edelweis, rangkaian bunga itu juga tetap tampil menarik.
Dalam hal ini butuh kesadaran dari wisatawan untuk Menolak, Berkata Tidak dan Tidak Membeli rangkaian bunga Edelweis bila ada pedagang yang menawarkan bunga itu ketika berkunjung ke wisata Gunung Bromo.
Biarkanlah keindahan bunga Edelweis ini mewarnai ekosistem asalnya. Tak perlu kita sampai harus dengan merusak keberadaan tanaman Edelweis ini karena ungkapan perasaan cinta dan kasih sayang pada kekasih atau pasangan bisa disampaikan melalui rangkaian bunga dari jenis lainnya, boneka, bingkisan, souvenirdan sebagainya.
Ketika saya berbincang-bincang dengan penjual bunga Edelweis itu, saya juga menjumpai beberapa biker yang melintasi kawasan ini dengan sepeda mereka. Momen yang indah itu tentu juga tak lepas dari bidikan lensa kamera.
Usai mendapatkan informasi yang cukup tentang Bunga Edelweis itu, saya kemudian melanjutkan perjalanan dengan menaiki tangga menuju ke puncak Gunung Bromo.
Syukurlah, kondisi tangga itu saat ini sudah dibenahi karena sebelumnya rusak parah akibat letusan Gunung Bromo dan sangat membahayakan bagi keselamatan pengunjung.
Untuk menaiki tangga sebanyak 250 anak tangga dengan sudut kemiringan yang cukup ekstrem itu tentu membutuhkan stamina tubuh yang fit dan prima. Jangan memaksakan diri untuk tetap meniti tangga itu jika tubuh terasa lelah dan nafas yang terengah-engah.
Beristirahat sejenak dengan mengatur nafas sangat disarankan sebelum Anda melanjutkan perjalanan. Begitu pula dengan tetap berjalan melangkahkan kaki sambil berpegangan pada pagar pembatas mengingat tangga yang cukup licin karena banyak terdapat pasir halus pada anak tangganya.
Ada beberapa pengunjung yang terjatuh dan terpeleset karena tak hati-hati dan berpegangan pada pagar pembatas ketika meniti tangga itu.

Ada pemandangan yang cukup menarik karena juga terdapat beberapa warga yang menyewakan kudanya tampak beristirahat di lereng gunung ini. Begitu pula dengan kudanya. Di bawah teriknya Sang Surya, mereka tidur-tiduran dengan beralaskan pasir dan menutupi tubuhnya dengan menggunakan sarungnya. Dari kejauhan tampak bangunan Pura Luhur Poten yang seolah senantiasa setia bermain dengan lautan pasir dan badai pasirnya.
Usai menikmati panorama di puncak Gunung Bromo dengan keindahan kawahnya itu, saya kemudian menuruni tangga. Di tangga itu saya menjumpai beberapa pasangan yang tampak mesra mengabadikan momen dan kenangan mereka.
Berbeda dengan saat menuju ke Gunung Bromo yang terasa cukup lama, berat dan melelahkan, ketika kembali dari Gunung Bromo dan menuruni medannya terasa cukup cepat dan ringan. Walau tetap terasa melelahkan karena tak ada tempat untuk berteduh dari teriknya sinar matahari.
Dalam perjalanan kembali itu saya menyempatkan diri untuk memotret rekahan di lautan pasir itu.Rekahan yang bentuknya seperti sungai kering itu mungkin terjadi akibat letusan dan aktifitas vulkanik gunung ini.
Di tengah hamparan lautan pasir pada teriknya matahari itu, saya juga menjumpai seorang pria tampak sedang membawa kantung plastik besar sedang memunguti sampah. Semula saya mengira dia adalah pemulung. Tetapi setelah saya mendekat dan berkenalan diri, ternyata pria yang bernama Pak Timbul itu adalah petugas kebersihan kawasan ini.
Petugas kebersihan itu sendiri ada 12 orang yang bertugas secara bergantian dalam dua bagian dan shif.Keberadaan Pak Timbul itu tentu termasuk dalam sisi lain keindahan di Gunung bromo ini dalam versi saya. Karena dengan tugasnya itu, dia berusaha untuk menjaga kawasan ini agar tetap indah dan menarik tanpa adanya sampah yang berserakan.
Sesampai kembali di Cemoro Lawang, saya beristirahat sejenak. Sedapnya bau kuliner bakso dari pejual yang mangkal disana menggoda selera saya. Saya kemudian memesan satu porsi bakso yang dihargai Rp 8000 per porsinya. Bakso itu sendiri tak berbeda dengan bakso pada umumnya.
Tetapi, menikmati bakso dengan suasana dan nuansa yang menyejukkan di dataran tinggi ini menjadi bagian rangkaian dari keindahan yang saya jumpai di wisata Gunung Bromo.

Di sekitar kawasan wisata ini juga terdapat banyak warung, restoran dan kafe yang menjual beraneka jenis makanan dan minuman. Ada juga banyak penginapan, hotel dan villa dengan tarif mulai dari Rp100.00 per malam.
====================
Baca juga dan Klik artikel menarik berikut ini :
Main Game = Dapat Dollars
Main Game = Dapat Dollars
Menambang Uang Melalui Facebook dan Twitter
Peluang Mendapatkan Dollar Via Internet
Museum Santet Di Surabaya
Tips Memasang Iklan Di Blog
Share Status di Fb/Twitter Dapat Komisi
Jenazah Utuh Dimakamkan 35 Tahun Di Tuban

Click : Nikmatnya Oleh-oleh Khas Tuban
Artikel-artikel Menarik lainnya bisa Anda baca
di Link berikut ini :
www.blogger.comblogspot.com
Posting Komentar